Newest Post

Tampilkan postingan dengan label BERITA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BERITA. Tampilkan semua postingan

Kisah Hidup Joko Widodo (Gubernur DKI Jakarta)

| 26 Des 2012
Baca selengkapnya »
Kisah Hidup Jokowi


Masa kecil Jokowi bukanlah orang yang berkecukupan, bukanlah orang kaya. Ia anak tukang kayu, nama bapaknya Noto Mihardjo, hidupnya amat prihatin, dia besar di sekitar Bantaran Sungai. Ia tau bagaimana menjadi orang miskin dalam artian yang sebenarnya.

Bapaknya penjual kayu di pinggir jalan, sering juga menggotong kayu gergajian. Ia sering ke pasar, pasar tradisional dan berdagang apa saja waktu kecil. Ia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana pedagang dikejar-kejar aparat, diusiri tanpa rasa kemanusiaan, pedagang ketakutan untuk berdagang. Ia prihatin, ia merasa sedih kenapa kota tak ramah pada manusia.

Sewaktu SD ia berdagang apa saja untuk dikumpulkan biaya sekolah, ia mandiri sejak kecil tak ingin menyusahkan bapaknya yang tukang kayu itu. Ia mengumpulkan uang receh demi receh dan ia celengi di tabungan ayam yang terbuat dari gerabah. Kadang ia juga mengojek payung, membantu ibu-ibu membawa belanjaan, ia jadi kuli panggul. Sejak kecil ia tau bagaimana susahnya menjadi rakyat, tapi disini ia menemukan sisi kegembiraannya.

Ia sekolah tidak dengan sepeda, tapi jalan kaki. Ia sering melihat suasana kota, di umur 12 tahun dia belajar menggergaji kayu, tangannya pernah terluka saat menggergaji, tapi ia senang dan ia gembira menjalani kehidupan itu, baginya "Luwih becik rengeng-rengeng dodol dawet, tinimbang numpak mercy mbrebes mili". Keahliannya menggergaji kayu inilah yang kemudian membawanya ingin memahami ilmu tentang kayu.

Lalu ia berangkat ke Yogyakarta, ia diterima di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, jurusan kehutanan. Ia pelajari dengan tekun struktur kayu dan bagaimana pemanfaatannya serta teknologinya. Di masa kuliah ia jalani dengan amat prihatin, karena tak ada biaya hidup yang cukup. Kuliahnya disambi dengan kerja sana sini untuk biaya makan, ia sampai lima kali indekost karena tak mampu biaya kost dan mencari yang lebih murah.

Hidup dengan prihatin membawanya pada situasi disiplin, Jokowi mampu menerjemahkan kehidupan prihatinnya lewat bahasa kemanusiaan, bahwa dalam kondisi susah orang akan menghargai tindakan-tindakan manusiawi, disinilah Jokowi belajar untuk rendah hati.

Setamat kuliah ia tetap menjadi tukang gergaji kayu, tapi ia sudah memiliki wawasan, ia melihat industri kayu berkembang pesat, ia mendalami mebel. Disini ia pertaruhkan segalanya, rumah kecil satu-satunya bapaknya ia jaminkan ke Bank. Dan ia berhasil, ia bukan saja tapi ia juga pengambil resiko yang cerdas, ia berhasil dari sebuah bengkel mebel dengan gedek disamping pasar yang kumuh berhasil dikembangkan. Ia menangis ketika pekerja-pekerjanya bisa makan.

Suatu saat ia kedatangan orang Jerman bernama Micl Romaknan, orang Jerman ini kebetulan tidak membawa grader (ahli nilai) kayu, ia ngobrol dengan Jokowi, kata orang Jerman itu : "Wah, di Jepara saya ketemu orang namanya Joko, baiklah kamu kunamakan saja Djokowi, kan mirip Djokovich" akhirnya terciptalah sebuah nickname Jokowi yang melegenda itu.

Perkembangan bisnisnya bagus, ia dipercaya kerna ia jujur, orang Jerman suka dengan orang yang jujur dan pekerja keras, Jokowi hanya tidur 3 jam sehari, selebihnya adalah kerja. Ia tak pernah makan uang dari memeras atau pungli, ia makan dari keringatnya sendiri. Dengan begitu hidupnya berkah. Jokowi berhasil mengekspor mebel puluhan kontainer dan ia berjalan-jalan di Eropa.

Tidak seperti kebanyakan orang Indonesia yang mengunjungi Eropa dengan cara hura-hura atau foto sana, foto sini tanpa memahami hakikat masyarakatnya. Jokowi di Eropa berpikir reflektif. "Kenapa kota-kota di Eropa, kok sangat manusiawi, sangat tinggi kualitasnya baik kualitas penghargaan terhadap ruang gerak masyarakat sampai dengan kualitas terhadap lingkungan" lama ia merenung ini, akhirnya ia menemukan jawabannya "Ruang Kota dibangun dengan Bahasa Kemanusiaan, Bahasa Kerja dan Bahasa Kejujuran". Tiga cara itulah yang kemudian dikembangkan setelah ia menduduki jabatan di Solo.

Setelah sukses di bisnis, Jokowi berpikir "Bagaimana ia bisa berterima kasih pada bangsanya" lalu ia mendapatkan jawabannya, bahwa contoh terbaik untuk berterima kasih adalah menjadi pemimpin rakyat yang bertanggung jawab. Lalu ia masuk ke dalam dunia politik dengan seluruh rasa tanggung jawab. Pertanggung jawaban politiknya adalah pertanggungjawaban moral bukan karena ia mencari hidup dalam dunia politik, ia ikhlas dalam bekerja, baginya inilah cara berterima kasih pada bangsanya.

Ia masuk ke dalam dunia politik, awalnya tidak dipercaya, karena sosoknya lebih mirip tukang becak alun-alun kidul tinimbang seorang gagah yang hebat, dalam masyarakat kita, sosok dengan 'bleger' yang besar lebih diambil hati ketimbang orang dengan sosok kurus, ceking dan tak berwibawa itulah yang dialami Jokowi, tapi beruntung bagi Jokowi, saat itu masyarakat Solo sedang bosan dengan pemimpin lama yang itu itu saja, mereka mencoba sesuatu yang baru. Akhirnya Jokowi menang tipis.

Masyarakat mempercayainya dan ia menjawabnya dengan "Kerja" ia siang malam bekerja untuk kotanya, ia datangi tanpa lelah rakyatnya, ia resmikan gapura-gapura pinggir jalan, ia hadir pada selamatan-selamatan kecil, ia terus diundang bahkan untuk meresmikan pos ronda sebuah RW sekalipun. Ia bekerja dari akarnya sehingga ia mengerti anatomi masyarakat.

Suatu hari Jokowi didatangi Kepala Satpol PP. Kepala Satpol itu meminta pistol karena ada perintah pemberian senjata dari Mendagri. Jokowi meradang dan menggebrak meja "Gila apa aku menembaki rakyatku sendiri, memukuli rakyatku sendiri...keluar kamu...!!" kepala Satpol PP itupun dipecat dan diganti dengan seorang perempuan, pesan Jokowi pada kepala Satpol PP perempuan itu "Kerjalan dengan bahasa cinta, kerna itu yang diinginkan setiap orang terhadap dirinya, cinta akan membawa pertanggungjawaban, masyarakat akan disiplin sendiri jika ia sudah mengenal bagaimana ia mencintai dirinya, lingkungan dan Tuhan. Dari hal-hal inilah Jokowi membangun kota-nya, membangun Solo dengan bahasa cinta....".

Apakah di Jakarta ia tak bakalan mampu? banyak yang nyinyir bahwa Solo bukan Jakarta. Tapi apa kata Jokowi "Hidup adalah tantangan, jangan dengarkan omongan orang, yang penting kerja, kerja dan kerja. Kerja akan menghasilkan sesuatu, sementara omongan hanya menghasilkan alasan"

Jokowi berangkat dalam alam paling realistisnya. Kepemimpinan yang realistis, bertanggungjawab dan kredibel. Beruntung Indonesia masih memiliki Jokowi, pada Jokowi : "Merah Putih ada harapan berkibar kembali dengan rasa hormat dan bermartabat sebagai bangsa.


ANTON DH NUGRAHANTO

Sumber : http://kfk.kompas.com/blog/view/118659-Kisah-Hidup-Jokowi

Kisah Hidup Joko Widodo (Gubernur DKI Jakarta)

Posted by : Sigit Nurrahman
Date :26 Des 2012
With 0komentar
Tag :

`10 Rumah Berhantu Di Dunia

| 5 Des 2012
Baca selengkapnya »
Ada beberapa tempat di dunia yang terkenal dengan kisah hantu dan roh jahat. Konon sebagian orang berhasil melihat sosok hantu yang menghuni tempat-tempat angker ini. Bukannya takut, kisah hantu bergentayangan bikin banyak turis penasaran. Kini, tempat-tempat berhantu ini menjadi tujuan wisata dunia, seperti dilansir Oddstuffmagazine.

Berikut adalah sepuluh tempat paling berhantu di dunia.

1. Osuarium Sedlec

Osuarium Sedlec adalah sebuah kapel Roma Katolik kecil, yang terletak di bawah pemakaman gereja di Sedlec, pinggiran Kutná Hora di Republik Ceko. Osuarium (arti: kuburan) ini diperkirakan berisi kerangka 40.000 dan 70.000 orang. Tulang kerangka itu ditata secara artistik untuk membentuk dekorasi dan peralatan kapel tersebut. Kini, Osuarium ini merupakan salah satu tempat wisata yang paling banyak dikunjungi di Republik Ceko.

2. Bukit Salib

Bukit Salib adalah sebuah situs ziarah, yang terletak sekitar 12 km sebelah utara Å iauliai, bagian utara Lithuania. Pengunjung bisa melihat jajaran salib di bukit ini. Jumlah pasti dari salib belum diketahui, tetapi diperkirakan sekitar 55.000 tahun 1990 dan 100.000 tahun 2006.

3. Winchester Mystery House

The Winchester Mystery House adalah sebuah rumah besar yang terkenal di California. Dulu, ini adalah kediaman pribadi Sarah Winchester, janda dari raja William Wirt Winchester. Pembangunan rumah ini berjalan selama 38 tahun dan konon sering terjadi penampakan hantu.

4. Pripyat

Pripyat adalah kota hantu di dekat pembangkit listrik tenaga nuklir Chernobyl di Oblast Kiev, utara Ukraina, dekat perbatasan Belarus.

5. Bhangarh (India)

Wisatawan yang mengunjungi tempat ini mengatakan bahwa ada perasaan aneh ketika memasuki perbatasan Bhangarh sebelum matahari terbit dan setelah matahari terbenam. Kadang suasana di sekitar Bhangarh membuat orang merasa cemas dan gelisah.

6. Pelabuhan Ratu, Indonesia

Menurut legenda, Nyai Roro Kidul adalah putri Raja Prabu Siliwangi, yang kini menjadi Ratu Laut Selatan. Konon seseorang yang memakai baju hijau saat berenang (warna favorit Ratu), akan ditarik oleh hantu ke dalam laut. Bahkan, kamar 308 di Hotel Samudra Beach sengaja tidak disewakan karena dipakai sebagai "kamar" sang Ratu.

7. Aokigajara, Jepang

Aokigahara, hutan di bagian lereng Gunung Fuji, adalah lokasi yang populer untuk bunuh diri. Hal ini menimbulkan mitos tentang lokasi angker.

8. Manila Film Centre, Filipina

Manila Film Center adalah lokasi kecelakaan konstruksi pada awal 80-an. Ketika itu, gedung ini dibangun untuk event festival film. Sayangnya, penyangga langit-langit runtuh dan membunuh beberapa pekerja di bawahnya. Setelah kejadian tragis itu, warga sering menemui suara misterius dan penampakan roh pekerja yang tertimbun hidup-hidup.

9. Hotel Hyat, Taiwan

Hotel Hyatt yang berada di pusat kota Taipei ini diduga berhantu dan angker. Konon warga juga sering menemui kejadian aneh dan misterius di ruang hotel.


10. Beechworth Lunatic Asylum, Australia

Kabarnya, Beechworth Lunatic Asylum, Australia, dihantui oleh beberapa hantu pasien. Rumah ini dibuka sejak tahun 1867 sampai 1995. Saking terkenalnya, rumah hantu ini sering muncul dalam beberapa buku, acara televisi, dan film dokumenter, termasuk A.C.T Paranormal lho.

Berhantu atau tidak itu tergantung persepsi masing-masing orang. Namun, sebagian orang percaya bahwa kehidupan lain di sekitar manusia, yakni alam gaib.

`10 Rumah Berhantu Di Dunia

Posted by : Sigit Nurrahman
Date :5 Des 2012
With 0komentar
Tag :

Kasus Diego Mendieta, Potret Kecil Buruknya Sepak Bola Indonesia

|
Baca selengkapnya »
Kematian memang bisa menjemput manusia kapan saja tanpa pernah bisa diduga. Namun demikian, kematian tragis Diego Mendieta patut disesalkan. Mantan pemain Persis Solo asal Paraguay itu menghembuskan napas terakhir dalam kesendirian dan ketidakadilan.

Hingga ujung hayat, Diego masih belum menerima gaji selama empat bulan sebesar Rp120 juta. Hak yang tak terbayarkan ini meninggalkan keprihatinan mendalam. Inilah puncak gunung es karut-marutnya tatanan sepak bola Indonesia.

Bukan rahasia lagi bahwa banyak pemain di kompetisi Indonesia yang belum menerima gaji — baik itu di LSI (versi KPSI) maupun LPI (versi PSSI). Penyebabnya? Ketidakbecusan pengelola sepak bola di negeri ini.

Di Indonesia, kompetisi level negara nyaris tak berbeda dengan turnamen antarkampung. Maklum, tak pernah dibangun berdasarkan studi kelayakan. Tidak ada riset dan kalkulasi berapa biaya minimal yang harus dikeluarkan sebuah klub untuk ikut kompetisi. Akibatnya, tidak ada kejelasan dari mana saja klub seharusnya menggali sumber dana.

Selanjutnya, tak diketahui daerah mana yang pantas menyelenggarakan kompetisi di lapis satu-dua-tiga-dan seterusnya. Tidak pula diperhitungkan apakah kota tertentu memiliki daya beli tiket dan suvenir klub. Tak ada pula aturan tentang siapa yang berhak punya klub dan tak ada aturan kepemilikan saham. Tak ada panduan bagaimana dan oleh siapa semestinya klub dikelola, bagaimana keamanan kompetisi diurus, bagaimana klub diberi kompas untuk menjaring dana/sponsor.

Ini semua tak pernah jelas.

Mungkin Indonesia satu-satunya negara besar di dunia dengan kompetisi (yang katanya profesional) tanpa fondasi yang kuat, bagus, baik, dan benar. Padahal, selain sebagai industri hiburan, kompetisi profesional juga berfungsi sebagai muara pembinaan sepak bola sebuah negeri. Tapi sepertinya di Indonesia, kedua fungsi ini diabaikan.

Pendeknya, kompetisi Indonesia tak punya desain besar. Andai ada, itu cuma macan kertas. Prinsip "pokoknya jalan" menjadi kunci. Itulah sebabnya konfigurasi jadwal pertandingan pun belang bonteng. Masa kompetisi dari musim ke musim selalu tak jelas. Rencana dibuat parsial. Sanksi dan aturan bisa direkayasa kapan saja sesuai kepentingan. Kompetisi amburadul.

Dari sini, kita tidak heran lagi bila klub bergerak liar (misalnya dengan membeli pertandingan dan bahkan gelar juara). Kita juga tidak heran bila kompetensi wasit amatlah rendah. Wasit tidak becus, wasit mudah “dititipi”, juga wasit yang jadi bulan-bulanan pemain karena sering menghadiahkan penalti di menit-menit terakhir suatu pertandingan.

Kita juga tidak heran bila tiada standar kualitas pemain, maklum yang memilih pemain adalah pengurus klub (bukannya pelatih). Padahal para pemain ini ujung tombak kompetisi kasta tertinggi dengan putaran uang ratusan miliar rupiah.

Uang itu seperti dibakar tanpa ada hasil yang bisa dibanggakan. Yang muncul justru masalah demi masalah mendasar.

Kompetisi profesional bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri dalam sistem sepak bola sebuah negara. Dia hanyalah puncak piramida pembinaan. Tentu saja kompetisi puncak membutuhkan topangan dari bawah. Fondasi harus kuat. Tatanan harus jelas. Dengan sebuah piramida, pengelola dan pelaku sepak bola menjadi paham di mana peta mereka dan ke mana tujuan. Tanpa itu semua Indonesia menjadi sulit dan mungkin tidak akan pernah berprestasi.

Memang Indonesia pernah juara SEA Games 1991, meski belum punya piramida pembinaan. Tetapi itu 21 tahun yang lalu. Kini dunia sudah berubah. Sepak bola dan pengelolaannya berevolusi tanpa henti. Indonesia tidak bisa hanya bermodalkan romantisme, mengenang kejayaan masa lalu, seolah-olah dunia tidak bergerak.

Indonesia juga tidak bisa naif menyalahkan konflik PSSI-KPSI sebagai biang keladi kegagalan. Betul, konflik memang menyebabkan tim nasional tidak diperkuat pemain terbaik. Tetapi tanpa konflik pun kita sudah kesulitan berprestasi. Ingat, pada Piala AFF 2010 kita juga gagal juara.

Sudah saatnya PSSI membuat cetak biru piramida pembinaan dan pengelolaan sepak bola. Membuat liga berjenjang yang dijalankan dengan teratur dan konsisten adalah syarat mutlak. Berbagai lapisan kompetisi itu akan melahirkan pemain dalam jumlah besar dari tahun ke tahun. Dia juga akan membutuhkan panitia pertandingan dalam jumlah banyak. Dia pun akan memerlukan kurikulum sepak bola.

Sudah saatnya pula PSSI membenahi dan menyusun ulang konsep kompetisi profesional di negeri ini. Jangan lagi hanya mengandalkan prinsip parsial dan asal jalan saja. Perhitungan hak dan kewajiban setiap pelaku dalam bungkus industri menjadi penting. Jangan biarkan lagi klub amatir dan sumber dana tak jelas bisa mudah ikut liga.

Jangan lagi ada pemain yang bayarannya macet. Jangan lagi ada pertandingan yang berubah jadi pameran jurus pencak silat. Jangan lagi ada wasit yang berfungsi ganda (terima titipan duit, juga terima bogem mentah pemain).

Kasus Diego Mendieta, Potret Kecil Buruknya Sepak Bola Indonesia

Posted by : Sigit Nurrahman
Date :
With 0komentar
Tag :
Prev
▲Top▲